Beranda Sai Bumi Nengah Nyappur Puing Sisa Kejayaan Kota Menggala

Puing Sisa Kejayaan Kota Menggala

253
0
BERBAGI

SeputarTuba.com – Hampir setengah abad yang lalu, Dermaga Bugis merupakan pelabuhan yang sangat terkenal dan menjadi jalur transportasi satu-satunya pada kala itu.

Dermaga yang terletak di bibir sungai Way Tulangbawang, tepatnya di Lingkungan Bugis, Kelurahan Menggala Kota, Kabupaten Tulangbawang itu, merupakan urat nadi perekonomian masyarakat khususnya orang pribumi.

Pelabuhan itu adalah tempat transaksi berbagai barang-barang dari berbagai wilayah di Lampung hingga pulau Jawa, dengan muatan berbagai bahan pokok dan selain itu tidak hanya barang, melainkan juga tempat pengangkut manusia yang hendak bepergian ke berbagai daerah.

Begitu pentingnya pelabuhan ini dulu, hampir setiap harinya puluhan kapal para pedagang yang membawa hasil alam selalu bongkar muat di pelabuhan tersebut.

Banyaknya pengiriman yang datang setiap harinya, banyak warga sekitar yang ikut berkerja di pelabuhan menjadi kuli angkut.

Namun, dengan berkembangnya zaman dan terbukanya akses jalan, pelabuhan itu kini mulai tersisihkan, kondisi dermaga semakin parah dengan kurangnya perhatian sarana dan prasarana oleh pemerintah daerah karena tidak ada lagi yang mengunakan jalur perairan tersebut. Akibatnya, bangunan dermaga banyak keropos dan rapuh, tiang-tiang pada roboh dan nampak pula seluruh boom sudah diselimuti oleh lumpur.

Majik (84), salah satu warga Bugis mengatakan, sebenarnya pelabuhan itu tidak punah melainkan karena hilangnya tidak laku kapal-kapal dan juga terbukanya akses jalur darat, lambat laun dermaga Bugis mulai ditinggalkan.

“Kalau dulu awal berdirinya pada tahun 1975 dermaga ini selalu ramai, hampir setiap hari bongkar muat, kalau kayu numpuk seperti gunung di halaman dermaga ini,” ungkapnya Minggu (26/05/2019).

Pria kelahiran 1935 itu pun mengaku dirinya sebagai pengawas sejak dibangunnya pelabuhan tersebut pada tahun 1973 hingga pelabuhan itu mulai beroperasi pada tahun 1975.

“Dulu saya juga sebagai pengawas, selain sebagai pengawas, juga membuka warung kecil, menjual minum-minuman dan makanan ringan,” jelasnya.

Ditempat terpisah, Heri seorang pemuda setempat juga menjelaskan, pada tahun 2004 ia masih duduk di bangku sekolah, pelabuhan tersebut masih beroperasi dan mengangkut warga yang hendak bepergian. “Dulu masih SMP, Tahun 2004 masih aktif, masih ada lah orang yang bepergian naik kapal, saya juga dulu jualan disitu,” katanya.

“Setelah itu, kalau enggak salah, tahun 2006 mulai sepi, sampai sekarang hanya tinggal kenangan, itulah dermaga Bugis riwayatnya kini,” ujar Heri sambil tertawa. (STB/Mawan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here