Beranda Dente Teladas Terasi Kering Khas Sungai Nibung, Kian Diminati, Sekali Mencoba Bakal Ketagihan

Terasi Kering Khas Sungai Nibung, Kian Diminati, Sekali Mencoba Bakal Ketagihan

68
0
BERBAGI

SeputarTuba.com – Terasi adalah salah satu bumbu penyedap masakan dan sambal. Terasi di Indonesia cukup populer, begitu juga di Provinsi Lampung tepatnya di Kabupaten Tulangbawang, yang dikenal sebagai daerah penghasil terasi.

Terasi di Tulangbawang merupakan bumbu pokok yang diutamakan oleh ibu-ibu rumah tangga untuk membuat sambal guna menyempurnakan rasanya.

Di Kabupaten yang berjuluk Sai Bumi Nengah Nyappur ada kampung yang menghasilkan terasi dengan ciri khas tersendiri, yaitu Kampung Sungai Nibung, Kecamatan Dente Teladas, yang sedikit berbeda dalam pengelolaan dengan diolah secara manual, sehingga rasa dan aromanya sangat berbeda.

Ari yang menggeluti usaha terasi udang ebie ciri khas Sungai Nibung, menyatakan produk terasi yang diolahnya sudah banyak diminati dan sudah dipasarkan di sejumlah pasar tradisional yang ada di Tulangbawang.

“Lumayan banyak yang minat, dan sudah mulai dipasarkan di Kota Menggala dan di sejumlah pasar-pasar,” ujar Ari, Senin (09/12/2019).

Dikatakannya, pengolahan terasi udang rebon khas Sungai Nibung, menggunakan udang kering, udang kecil, dan dua kali tahapan penjemuran, pertama udang kecil dijemur, kemudian diangkat lalu dicampur dengan garam secukupnya, setelah itu di fermentasi semalam. Setelah itu, udang tersebut digiling lalu dijemur kembali.

“Produksi bahan baku satu kuintal udang rebon, dan untuk proses penjemurannya selama 3 hari, itu kalau cuacanya panas, memang cukup lama, supaya terasinya benar-benar kering,” kata dia.

Lanjutnya, setelah terasi kering, dibagi menjadi tiga ukuran kecil dan sedang dengan berat 1 Ons sampai 3 Ons kemudian langsung dikemas. Harga jual terasi tersebut juga bervariasi.

“Untuk harga jual perbungkus nya dengan berat 1 Ons Rp.10.000 dan yang berat 2 Ons Rp.20.000, kalau yang 3 Ons nya cuma Rp.25.000 aja,” pungkasnya.

Pengerjaan terasi tersebut, dikerjakan oleh sekelompok ibu-ibu setempat mulai dari tahapan awal pengolahan sampai pencetakan hingga proses pengemasan.

“Yang mengerjakan dari pengolahan hingga mencetaknya dikerjakan sama ibu-ibu perkelompok terdiri dari 5 sampai 6 orang,” tutupnya. (STB/Mawan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here